Tuesday, December 18, 2007

REGULA DAN IDENTITAS KARMELIT

Fr. Franciscus Xaverius, O.Carm.


Identitas para Karmelit tersirat jelas dalam Regula Karmel yang merupakan pedoman hidup sekaligus cermin jati diri para Karmelit. Regula yang diterima, dihidupi, dihayati dan direnungkan semenjak 800 tahun yang silam ini masih merupakan panduan bagi para Karmelit dalam menjalankan hidup kebiaraan, karya serta misinya di tengah dunia. Menyimpang dari Regula berarti menyimpang dari tujuan awali para Karmelit awali.

Regula yang disusun oleh Santo Albertus, patriark Yerusalem, menunjukkan dengan jelas bahwa regula (formula vitae) ini merupakan permintaan para pertapa yang menginginkan sebuah ‘cara hidup’ (no. 2). Banyak kelompok pertapa yang hidup di Tanah Suci pada masa di mana Regula ini diberikan. Mereka mengadopsi regula Benediktin atau Sistersian, namun para pertapa di gunung Karmel meminta suatu regula yang baru yang benar-benar menunjukkan bagaimana mereka menghayati panggilan hidup mereka. Oleh sebab itu dengan melihat Regula Santo Albertus, kita dapat melihat bagaimana para Karmelit awali ini menjalani hidup mereka. Memang sebutan Karmelit baru muncul kemudian, namun dari Regula dapat ditarik pemahaman tentang apa arti menjadi seorang Karmelit.


GEREJAWI

Tindakan para Karmelit meminta Albertus menuliskan sebuah regula menunjukkan bahwa para pertapa menginginkan sebuah relasi resmi dengan Gereja universal. Gunung Karmel merupakan wialyah kekuasaan patriak Albertus. Bisa saja para pertapa itu meneruskan gaya hidup mereka tanpa regula atau menuliskan sendiri tata hidup mereka tanpa mengupayakan pengesahan secara gerejawi. Namun mereka pergi kepada Albertus dan meminta suatu aturan yang akan mereka patuhi (no.2). Dengan melakukan hal ini mereka menempatkan panggilan eremetis mereka dalam struktur Gereja. Mereka mencari dan menerima sanksi dari gereja dengan cara hidup mereka dan sanksi ini ternyata terbukti diterima dari berbagai paus. Para pertapa ini juga menunjukkan kesetiaan gerejawi mereka dengan berpartisipasi dalam liturgi Gereja, baik liturgi ibadat maupun liturgi misa.


KRISTOSENTRIS

Regula ini diawali dan diakhiri dalam nama Kristus. Albertus menyapa para pertapa sebagai “anak-anaknya yang terkasih dalam Kristus” (no. 1). Segera setelah sapaan tersebut, dia memberikan penekanan lebih kuat tentang pendasaran pada Kristus ini dengan mengatakan kepada para pertapa “kalian harus menghayati hidup bersatu dengan Kristus” dan “dengan giat melayani Tuhan” (no. 2). Pada bagian akhir Regula, Albertus memberitahu para pertapa bahwa mereka harus mengarahkan perhatian mereka bukan kepada Prior “tetapi kepada Kristus yang telah menempatkannya di atasmu”. Dengan meminta mereka agar terus-menerus mengarahkan perhatiannya kepada Kristus, Albertus mengingatkan mereka bahwa mereka akan menerima anugerah hidup kekal (no. 23). Dia menutup Regula tersebut dengan sebuah peringatan kepada para pertapa bahwa “Tuhan kita, pada kedatangannya yang kedua, akan memberikan upah kepada mereka yang menjalankan apa yang ditugaskan kepadanya” (no. 23).


HIDUP DALAM KEHENINGAN

Hanya sekali saja Regula Santo Albertus ini menyebutkan istilah pertapa. Dia mengatakan hal ini pada bagian awal sapaannya (no. 1). Setelah itu, ia menyapa dan merujuk kepada mereka sebagai para saudara. Meskipun demikian, istilah pertapa ini menunjukkan bahwa mereka menghayati hidup dalam keheningan. Albertus menjelaskan arti hidup dalam kesunyian dalam tiga tempat: “Masing-masing dari kalian harus memiliki bilik yang terpisah” (no. 6), “Masing-masing dari kalian harus tinggal dalam biliknya sendiri atau di sekitarnya” (no. 8), dan “Sebagaimana telah aku katakan, masing-masing dari kalian harus tinggal dalam biliknya sendiri (no. 10). Hanya dengan keheningan dalam biliknya sendiri mereka dapat memberikan diri mereka ke dalam hidup doa dan mendengarkan “suara lirih” (1Raj 19:12) Allah. Dalam bilik mereka, para pertapa tidak akan terpengaruh oleh ketertarikan kepada dunia luar. Mereka hanya perlu tertarik kepada Allah.


HIDUP BERKOMUNITAS

Tampaknya kontradiksi, di satu pihak mereka harus hidup dalam keheningan namun di pihak lain mereka harus hidup berkomunitas, namun inilah yang tampak dalam Regula. Dalam keseluruhan Regula ini, Albertus memasukkan semangat berkomunitas dan bahkan memberikan penekanan kepada unsur praktek demokrasi. Prior “dipilih untuk jabatan itu dengan persetujuan bersama semua saudara atau dengan persetujuan sebagian besar dan lebih bijak”(no. 4). Bahkan keputusan siapa harus tinggal di bilik yang mana juga ditentukan oleh Prior sendiri dan dengan persetujuan para saudara lain atau sebagian yang lebih bijak (no. 6).

Para pertapa ini bertemu setiap hari Minggu untuk makan bersama dalam komunitas. Di sini mereka juga “membicarakan pemeliharaan tata-tertib dan kesejahteraan rohani”. Pada kesempatan itu “juga diperbaiki dengan kasih sayang pelanggaran dan kesalahan para saudara, bila terdapat pada seseorang”. Dari sini tampak bahwa keputusan bukan berada pada tangan satu orang saja, yaitu prior, melainkan pada kelompok yang lebih besar.

Bahkan tugas prior adalah memberikan kebaikan kepada seluruh kelompok. “Bilik prior hendaknya berdekatan dengan pintu masuk tempat itu, agar ia lebih dahulu menemui orang-orang yang datang ke tempat itu; dan dengan demikian segala sesuatu yang perlu dikerjakan, dapat dilaksanakan menurut pertimbangan dan ketentuannya” (no. 9). Di sini dapat dipahami bahwa salah satu tugas prior adalah memastikan bahwa para pertapa tidak diganggu oleh para pengunjung, sehingga mereka dapat melakukan kegiatan doa dan karya mereka dengan nyaman. Selain itu prior juga bertugas membagikan segala sesuatu kepada tiap orang dengan mengingat usia dan kebutuhan masing-masing (no. 12).

Kepada komunitas ini Albertus juga menambahkan persyaratan agar mereka berkumpul setiap pagi untuk mengikuti misa (no. 14). Tidak diketahui apakah di antara anggota kelompok pertama tersebut ada seorang imam atau seorang imam dari luar kelompok tersebut datang setiap hari untuk menyelenggarakan misa.


LITURGIS

Perintah Albertus untuk berkumpul mengikuti misa harian juga menggarisbawahi partisipasi komunitas ini dalam kehidupan liturgi Gereja. Pada masa itu, misa harian khusus untuk kelompok religius masih sangat tidak lazim.

Para pertapa ini juga sudah mendoakan mazmur baik menurut cara liturgi ibadat harian maupun cara mereka sendiri. Albertus menuliskan “Mereka yang tahu mendoakan ibadat harian hendaknya melaksanakannya menurut ketentuan para bapa suci dan kebiasaan Gereja yang telah disahkan.” (no. 11). Pada masa itu dikenal berbagai versi ibadat harian, tidak diketahui apakah mereka menggunakan tata cara ibadat harian lokal (Tanah Suci) atau mereka menggunakan versi Benediktin.

Para pertapa tampaknya juga melakukan apa yang umum dilakukan saat itu yaitu bagi mereka yang tidak dapat membaca mereka secara berulang-ulang mendoakan Bapa Kami.


CINTA AKAN KITAB SUCI

Kehidupan liturgy komunitas ini juga mencakup pembacaan Kitab Suci dalam bacaan misa dan mazmur-mazmur dalam Kitab Suci. Regula malah juga menambahkan bahwa hidup para pertapa ini harus dilandaskan pada Kitab Suci.

Ketika membaca Regula Santo Albertus, kutipan-kutipan dari Kitab Suci dapat dikenali dengan mudah. Ada empat puluh satu kutipan dari Kitab Suci, dan kutipan-kutipan tersebut sendiri merupakan sepertiga dari keseluruhan Regula. Surat-surat Santo Paulus banyak dikutip misalnya untuk mendukung kerja (no. 20), juga tentang berbagai ‘senjata’ yang diperlukan oleh pertapa agar menang dalam pertarungan rohani (no. 19). Juga ada kutipan-kutipan dari Perjanjian Lama yang mendukung panggilan dalam keheningan (no. 21).

Albertus juga menuliskan “pedang Roh, yaitu firman Allah, diam berlimpah-limpah dalam mulut dan hatimu, dan segala sesuatu yang harus kamu lakukan, lakukanlah itu dalam Sabda Tuhan” (no. 19). Ungkapan tersebut merupakan refleksi lebih mendalam dari inti Regula dan karisma Karmel, yaitu “merenungkan hukum Tuhan siang dan malam serta berjaga dalam doa, kecuali bila sibuk dengan pekerjaan lain yang wajar.” (no. 10).

Tugas-tugas lain yang harus dilakukan oleh para pertapa tidak termuat dalam Regula, demikian juga sejarah tidak mencatat pekerjaan apa yang biasa mereka lakukan. Albertus juga mengutip tulisan Paulus “jika seorang tidak mau bekerja, janganlah ia makan”.( no.20) Ia juga memperingatkan para pertapa akan bahaya menganggur “Kamu harus melakukan suatu pekerjaan, sehingga setan selalu mendapati kamu sibuk, jangan sampai ia dapat masuk ke dalam jiwamu karena kamu menganggur” (no. 20). Albertus juga melihat pekerjaan sebagai jalan untuk mencapai kesucian dan kebaikan (no. 20).


KEHENINGAN

Cara lain untuk mencapai kesucian yang disebutkan dalam Regula adalah keheningan. Ketidak-heningan’ bukan hanya dapat merusak kehidupan komunitas tetapi juga “merugikan jiwa mereka yang gegabah dalam bicara” (no. 21). Pada bagian tentang keheningan ini, Albertus membuka dan menutupnya dengan mengutip Yesaya pasal 32. Keheningan yang dimaksud adalah keheningan yang menyuburkan keadilan.


BERPAKAIAN SENJATA ROHANI

Karena mereka hidup di jaman perang salib, maka tidaklah mengherankan bahwa Santo Albertus mengutip dari surat-surat Paulus yang berkaitan dengan ‘senjata rohani’. Senjata yang mereka gunakan adalah kemurnian, meditasi, kesucian, iman, keselamatan dari Allah, dan Sabda Tuhan. Dengan senjata-senjata ini mereka dapat melawan musuh-musuh jiwa, mencinta Allah, menangkal panah berapi musuh dan membebaskan diri dari dosa (no. 19). Praktek-praktek asketis lain dilakukan juga oleh para pertapa termasuk ketaatan kepada prior (no. 4, 22), berpuasa (no. 16) dan tidak makan daging (no. 17).


MASUK AKAL

Akhirnya Albertus dan para pertapa memahami bahwa meskipun pedoman hidup ini baik adanya namun dalam pelaksanaannya tidaklah boleh bersifat legalistik melainkan harus dilaksanakan secara pastoral dengan memperhitungkan keadaan. Albertus dengan tegas mengatakan bahwa kebutuhan tidak mengenal hukum (no. 16). Para Karmelit diminta berkumpul setiap pagi untuk mengikuti misa apabila dengan mudah dapat dilaksanakan (no. 14). Mungkin orang bertanya-tanya apa yang dimaksudkan dengan ‘apabila dengan mudah dilaksanakan’. Penjelasannya demikian, biara pertama berada di daerah yang tidak rata sehingga apabila terjadi hutan lebat, perjalanan dari bilik tempat ia tinggal ke kapel menjadi begitu sulit dan berbahaya. Dalam keadaan yang demikian, para pertapa diperbolehkan tidak datang ke kapel untuk mengikuti misa harian. Puasa juga dapat didispensasi dengan alasan penyakit atau kelemahan badan maupun alasan lain yang wajar menganjurkan untuk tidak berpuasa (no. 16) dan daging juga dapat dimakan sebagai obat dari penyakit atau kelemahan tubuh (no. 17. Bahkan kesunyianpun boleh dipecahkan apabila ada alasan yang perlu dan baik (no. 21). Dan Albertus mengakhiri Regula ini dengan menekankan perlunya pelaksanaan yang masuk akal ini dengan mengatakan “hendaknya menggunakan penegasan sebagai penuntun kebajikan-kebajikan” (no. 24).

Dalam Regula Santo Albertus, kita menemukan bentuk awal karisma Karmel. Karisma itu bertumbuh dan berubah menurut waktu namun dasar-dasarnya, yang sudah ada sejak awal mula, tetap bertahan hingga sekarang. Melalui Regula ini, suara Santo Albertus dan suara para Karmelit awali berkumandang kepada para Karmelit hingga saat ini menceritakan siapa mereka, bagaimana mereka menghayati hidup panggilan mereka. Para Karmelit hingga saat ini bersifat gerejawi, kristosentris, hidup dalam keheningan, hidup berkomunitas, liturgis, cinta akan Kitab Suci, bekerja, memelihara keheningan, berpakaian senjata rohani dan melakukan hal-hal menurut akal sehat. Batu penjuru-batu penjuru ini telah bertahan selama 800 tahun dan akan terus memberikan ispirasi kepada para Karmelit di masa mendatang.

AJARAN KEHENINGAN DALAM REGULA

Fr. Hariawan, O.Carm

Tidak ada tradisi manapun, baik Timur maupun Barat yang mengajarkan bahwa cara terbaik untuk mencapai persatuan dengan Yang Ilahi adalah dengan berbicara tanpa henti. Memang tidak ada yang demikian, yang umum adalah bahwa untuk mencapai Yang Ilahi yang harus dilakukan ada diam, hening baik fisik maupun batin. Tanpa keheningan, kehidupan yang penuh dan seimbang antara kontemplasi dan aksi tidak akan tercapai. Dan akibatnya tentunya harapan untuk mencapai Yang Ilahi akan sia-sia belaka.

Regula Karmel nomor 21 juga berbicara tentang perlunya keheningan untuk mencapai tingkat rohani yang tinggi.

Regula nomor 21 berbunyi demikian:

Rasul itu (Rasul Paulus) menganjurkan keheningan ketika ia menyuruh orang bekerja dengan tenang; demikian pula nabi memberi kesaksian: keheningan memupuk keadilan; dan lagi pula ia berkata: dalam ketenangan dan pengharapan terletaklah kekuatanmu. Oleh karena itu kami menetapkan supaya kamu memegang teguh keheningan sesudah ibadat malam sampai selesai ibadat pagi hari berikutnya. Meskipun pada waktu lain keheningan tidak perlu dijaga begitu ketat, namun hendaknya menjaga diri dari banyak bicara. Sebab tertulis - dan tidak kurang pengalaman mengajarkan - bahwa dalam banyak bicara pasti terdapat dosa; dan orang yang gegabah dalam percakapannya akan mengalami akibat buruknya. Demikian pula, orang yang banyak bicara merugikan jiwanya. Dan dalam Injil Tuhan bersabda: setiap kata sia-sia yang diucapkan seseorang harus dipertanggungjawabkan pada hari penghakiman. Maka, setiap orang harus mempertimbangkan perkataannya dan mengekang mulutnya, agar ia tidak tergelincir dan jatuh karena lidahnya sehingga tidak tertolong sampai binasa. Bersama dengan nabi ia harus menjaga jalannya agar tidak berdosa karena lidahnya; dan ia harus berusaha memelihara dengan seksama dan hati-hati keheningan yang memupuk keadilan.

Kata-kata, hasil kegiatan berbicara itu, ada di antara keheningan dan keheningan: antara keheningan sesuatu dan keheningan diri kita, antara keheningan dunia dan keheningan Allah. Ketika kita telah benar-benar menemukan dunia dalam keheningan, kata-kata tidak akan memisahkan kita dari dunia atau dari orang lain, juga tidak dari Allah, juga tidak dari diri kita sendiri karena kita tidak lagi percaya sepenuhnya kepada bahasa untuk memuat realitas. Pada titik kesadaran ini kita akan mulai diam dan hening.

Keheningan merupakan induk tiga kebajikan yang mendasar, yaitu:

  1. Kemampuan mengetahui mana yang baik dan mana yang buruk. Keheningan membuat kita dapat mengetahui apa yang harus dihindarkan dan apa yang harus dilakukan dalam perjalanan menuju Allah.
  2. Kemampuan untuk mengetahui di manakah titik seimbang antara dua ujung ekstrim. Keheningan membuat kita mampu memutuskan yang benar di saat terjadi dilemma.
  3. Kemampuan untuk bersikap konsisten sehingga tidak akan ada perbedaan antara yang kita katakan dengan apa yang kita lakukan.

Dalam pengalaman keheningan kita berusaha meninggalkan keterikatan kepada diri kita dan menantikan Tuhan serta mendengarkan kehendakNya. Dengan demikian kita dilepaskan dari keterikatan pada diri kita sendiri yang seringkali membuat kita terhenti dalam perjalanan menuju Allah. Dan setelah kita terlepas dari keterikatan itu kita akan menyadari siapa diri kita dan mengapa kita mencari Allah. Kita juga akan disadarkan akan panggilan hidup kita masing-masing.

Selanjutnya dalam keheningan tersebut kita akan berjalan dari kegelapan yang tanpa cahaya sedikitpun menuju ke suatu terang kebenaran dan kemudian memasuki suatu kegelapan yang lebih dalam dari misteri cinta yang tak dapat diperkirakan oleh manusia. Di situlah kita akan bertemu dengan Sang Ilahi yang kita rindukan. Yohanes Salib menyakini bahwa dalam keheningan itulah terjadi percakapan antara Allah dan manusia. Ia mengatakan demikian: “Bapa mengatakan satu Sabda, yang adalah Putera, dan Sabda ini berkata-kata dalam keheningan abadi dan dalam keheninganlah apa yang Ia katakan harus didengar.”

Untuk mencapai ke sana tidaklah mudah. Namun jangan kuatir, kita dibantu oleh Roh Kudus yang telah dikirimkan oleh Yesus Kristus untuk membantu kita. Namun apakah kita punya pendengaran yang baik bagi bisikan lembut Roh Kudus? Dan apakah kita sudah mendengarkannya atau kita cuma ingin mendengar diri kita sendiri?

Kalau kita mampu mendengar bisikan itu, kita akan bertumbuh-kembang secara rohani. Dan semakin kita bertumbuh terhadap arahan Roh Kudus, semakin kita baik dan tepat dalam melakukan tugas kita di tengah dunia yang haus akan kedalaman spiritual. Dengan rahmatNya, kita dapat menjadi saluran Allah yang berbicara. Dalam keheningan Allah mengundang kita keluar dari kebekuan diri dan membawa kita kepada percakapan yang utuh dengan misteri Kasih dalam inti keberadaan kita.

Dengan pengalaman keheningan padang gurun itulah, kita akan dikuatkan untuk menyampaikan kabar gembira kepada sesama.


Wednesday, December 12, 2007

REGULA DAN PARA KARMELIT AWALI

Fr. Harry, O.Carm.


Tradisi Karmelit berawal dari tempat yang enunjukkan kerinduan akan Allah, gunung Karmel. Mulai dari Perjanjian Lama, gunung Karmel telah menjadi tempat bertapa di mana orang ingin menyatu dengan Allah. Pandangan ini bukan hanya dipercayai oleh penganut agama Kristen, tetapi juga Yahudi, Islam dan Bahais. Oleh sebab itu tidaklah mengherankan apabila pada abad ke-12 sekelompok mantan tentara perang salib dan peziarah mulai menghuni wilayah-wilayah gunung Karmel untuk mencari Tuhan melalui keheningan dan asketisme.

Didorong oleh teladan Elia, ada banyak orang yang ingin menjalani hidup bertapa di gunung Karmel. Mereka berharap di tempat ini mereka dapat mempersatukan diri mereka dengan Kristus. Para pertapa pertama ini dengan jelas ingin meninggalkan cara hidupnya yang lama dan menjalankan pola kehidupan yang baru.

Para tentara perang salib hanya sementara waktu menang atas orang Islam yang berusaha menguasai Tanah Suci. Ketika mereka dikalahkan oleh orang-orang Sarasin pada tahun 1187, banyak di antara mereka menolak untuk pulang ke negara asalnya di Eropa. Mereka kemudian memilih tinggal di gunung Karmel dekat mata air yang dikenal sebagai mata air Elia. Gunung Karmel menjadi tempat tinggal baru mereka selama sekitar seratus tahun.

Memang di antara para pertapa pertama adalah mantan tentara perang salib, namun ada juga mereka yang benar-benar peziarah. Dalam pemikiran abad pertengahan, peziarahan bukanlah dipandang sebagai salah satu bentuk devosi seperti yang dipahami saat ini, tetapi merupakan suatu sikap untuk menjadi seorang asing di dunia ini, tidak memiliki tempat tinggal tetap dan selalu berpindah. Dengan menjadi seorang peziarah, seseorang meninggalkan sanak keluarganya untuk hidup di wilayah di mana ia tidak dikenali, menjadi sendiri tanpa keluarga atau teman, tanpa kuasa dan tanpa keamanan. Konsep abad pertengahan tentang peziarahan mencakup sikap meninggalkan segala sesuatu, melepaskan segala sesuatu, sikap pertobatan terus menerus dan penitensi. Kondisi peziarahan saat itu sangat tidak menguntungkan bagi para peziarah. Namun kondisi inilah yang mereka harapkan karena mereka ingin menjadi miskin dan tak berdaya sebagaimana Kristus. Mereka mengikuti Kristus yang telanjang. Dalam peziarahan ke Tanah Suci ini harapan mereka terpenuhi. Mereka memutuskan relasi mereka dengan dunia, mereka hidup tanpa tempat tinggal, menuju tanah terjanji yang sejati dan merindukan pembebasan dari segala ikatan hidup.

Dari sini jelaslah bahwa para Karmelit awali terdiri dari tiga kelompok ini, para pertapa, para mantan tentara perang salib dan para peziarah.

Catatan historis pertama dari kelompok Karmelit pertama berasal dari tahun 1200an ketika mereka telah membentuk sebuah komunitas. Ketika pulang dari peziarahannya ke gunung Karmel, Jaques de Vitry, uskup Acre, menuliskan pengalamannya berjumpa dengan para Karmelit yang menjalani hidup eremitis. Ia mengatakan: Mereka dengan meneladan dan mengikuti nabi Elia, sang pertapa sejati, hidup sebagai pertapa-pertapa dalam celah-celah gua di gunung Karmel dekat sumber yang disebut sumber Elia.

Kelompok yang berkembang ini kemudian menghubungi Albertus, patriark Yerusalem, untuk memintanya memberikan suatu cara hidup (regula). Dari sini dapat diketahui bahwa telah ada suatu komunitas dengan struktur organisasi yang jelas Suatu bentuk cara hidup itu dituliskan oleh Albertus dalam bentuk surat yang ditujukan kepada saudara ‘B’ dan pertapa-pertapa lain yang tunduk kepadanya. Albertus menggunakan bakat dan pengetahuannya dalam memberikan arahan dan menciptakan persatuan di antara para pertapa agar mereka dapat diterima oleh Gereja. Albertus memberikan cara hidup tersebut dalam wujud formula vitae antara tahun 1206 – 1214. Perkiraan tahun ini didasarkan pada kenyataan bahwa Albertus diangkat menjadi Patriark Yerusalem pada tahun 2005 dan baru tiba di Tanah Suci pada tahun 1206. Pada tahun 1214 Albertus terbunuh dalam prosesi upacara Pengangkatan Salib Suci oleh seorang pimpinan rumah sakit yang dipecatnya karena korupsi.

Setelah sekitar limapuluh tahun menghayati formula vitae Albertus, para Karmelit awali terpaksa pergi karena mereka terdesak oleh kaum Sarasin. Mereka berpindah ke Eropa, dan di sini karena desakan situasi mereka mengubah cara hidup mereka yang eremitis menjadi mendikantes (peminta-minta). Dalam kaitannya dengan hal itu ada uskup-uskup lokal yang ingin mentahbiskan mereka guna melayani umat meski ada beberapa Karmelit yang memprotes hal ini karena mereka ingin tetap berstatus awam sehingga mereka dapat tetap hidup sebagai pertapa.

Perpindahan ke Eropa ini juga mengakibatkan perubahan dalam formula vitae (regula) itu sendiri. Pada tahun 1247 Paus Innocentius IV mengeluarkan mitigasi (pelunakan aturan) dalam Regula tersebut sebagaimana diminta para Karmelit sendiri. Tujuan mitigasi-mitigasi ini adalah menyadarkan mereka bahwa mereka mengalami perubahan hidup yang besar.


(dari berbagai sumber)

PAUS BENEDIKTUS XVI: KARMELIT ADALAH GURU DOA

Dalam sebuah pesan Paus Benediktus XVI yang ditujukan kepada Romo Joseph Chalmers, prior jenderal Ordo Saudara-saudara Santa Perawan Maria dari Gunung Karmel periode lalu, Bapa Suci menyampaikan penghargaannya kepada para guru doa ini. Bapa Suci menambahkan bahwa Regula Santo Albertuslah yang memberikan inspirasi kepada para pertapa latin yang tinggal di dekat mata air di gunung Karmel. Paus menambahkan bahwa pemberian Regula tersebut merupakan pengakuan pertama Gereja kepada sekelompok orang yang meninggalkan segalanya untuk hidup mengikuti Yesus Kristus, dengan jalan meneladan Santa Perawan Maria dan nabi Elia. Paus juga mengatakan bahwa para Karmelit ini menyambut kehadiran Yesus Kristus dalam dirinya dan menyediakan dirinya untuk diubah oleh kasih-Nya. “Inilah keputusan fundamental yang dihadapi oleh setiap orang Kristen,” demikian tambahnya.

Benediktus XVI kemudian merujuk kepada ensikliknya yang pertama, “Deus Caritas Est” (Allah adalah kasih) dan berkata, “menjadi seorang Kristen bukanlah merupakan hasil dari pilihan etis atau dari suatu pemikiran yang cemerlang, melainkan merupakan suatu perjumpaan dengan sebuah peristiwa, seorang pribadi, yang memberikan kepada hidup suatu horizon yang baru dan suatu arah yang menentukan.”

“Jika arti menjadi seorang Kristen memang demikian, maka para Karmelit yang panggilannya adalah mendaki ke puncak gunung kesempurnaan merasakan undangan ini.” Paus menambahkan, “Memang tidaklah mudah menghayati hidup panggilan semacam ini, perlu memperlengkapi diri dengan senjata iman untuk menghadapi bahaya serangan-serangan dunia ini.” Selanjutnya Paus melanjutkan, “Meskipun demikian, ada banyak laki-laki dan perempuan yang mencapai kesucian hidupnya dengan menghayati nilai-nilai Regula Karmel dengan iman yang kreatif.” Dengan mengacu pada dokumen Konsili Vatikan II ‘Lumen Gentium’, Paus menambahkan, “Kita semua mencari Yerusalem baru yang akan turun dan pada saat yang sama kita ditunjukkan jalan yang aman di tengah kekacauan dunia ini, jalan yang selaras dengan keadaan hidup kita dan cocok bagi kita masing-masing. Dengan jalan ini kita akan sampai pada persatuan sempurna dengan Kristus yang adalah Sang Kesucian Sempurna.”

Paus juga memberikan komentar atas tema kapitel jenderal yang lalu “In Obsequio Jesu Christi: A Prayerful and Prophetic Community in a Changing World” (Mengikuti Yesus Kristus: Komunitas Pendoa dan Profetis di tengah Dunia yang Berubah). Beliau mengatakan bahwa tema tersebut menggarisbawahi suatu cara yang dilakukan oleh para Karmelit untuk menjawab kasih Allah, melalui hidup yang diwarnai oleh doa, persaudaraan dan semangat profetis. “Dengan mata mereka yang terpaku pada Kristus dan dengan meneladan para orang kudus yang selama delapan abad telah menghayati Regula Karmel, setiap anggota Ordo Para Saudara Santa Perawan Maria dari Gunung Karmel merasa terpanggil untuk menjadi saksi dimensi spiritual setiap manusia,” demikian katanya.

“Kaum awam yang beriman”, tambah Paus, “dapat menemukan dalam komunitas Karmel, suatu sekolah doa, di mana perjumpaan dengan Kristus bukan hanya saat meminta-minta, tetapi suatu ungkapan syukur, pujian, penghormatan, kontemplasi, mendengarkan, devosi, sampai hati benar-benar telah menjadi jatuh cinta.”

APA ITU GUNUNG KARMEL?

Fr. Adji, O.Carm.


Gunung Karmel adalah suatu area pegunungan pantai di wilayah Israel yang menghadap ke Laut Mediterania. Nama Karmel berasal dari bahasa Ibrani ‘Karem El’ yang artinya kebun anggur Tuhan. Di masa lampau, gunung Karmel dipenuhi oleh kebun anggur dan terkenal sebagai wilayah yang subur.

Luas wilayah gunung Karmel adalah sekitar 16 mil kali 4-5 mil dengan ketinggian 1.800 kaki. Sebagian wilayah kota Haifa terletak di wilayah gunung ini. Selain itu juga ada kota-kota kecil lainnya, antara lain: Nesher, Tirat, Hakarmel, Yokneam dan Zikhron Ya’aqov. Kota Acre (juga dikenal sebagai Akko) terletak di seberang utara wilayah gunung Karmel.


Gunung Karmel disebut-sebut dalam Kitab Pertama Raja-Raja. Gunung ini menjadi tempat terjadinya keajaiban ketika ada pertandingan antara pemuja dewa Baal dan pengikut Allah Israel, Yahweh, yang kemudian berakhir dengan pembantaian para imam Baal atas perintah nabi Elia.

  • 18:18 Jawab Elia kepadanya: "Bukan aku yang mencelakakan Israel, melainkan engkau ini dan kaum keluargamu, sebab kamu telah meninggalkan perintah-perintah TUHAN dan engkau ini telah mengikuti para Baal.
  • 18:19 Sebab itu, suruhlah mengumpulkan seluruh Israel ke gunung Karmel, juga nabi-nabi Baal yang empat ratus lima puluh orang itu dan nabi-nabi Asyera yang empat ratus itu, yang mendapat makan dari meja istana Izebel."
  • 18:20 Ahab mengirim orang ke seluruh Israel dan mengumpulkan nabi-nabi itu ke gunung Karmel.

Selain itu, Kitab Kidung Agung juga mengindikasikan keindahan gunung Karmel.

  • 7:4 Lehermu bagaikan menara gading, matamu bagaikan telaga di Hesybon, dekat pintu gerbang Batrabim; hidungmu seperti menara di gunung Libanon, yang menghadap ke kota Damsyik.
  • 7:5 Kepalamu seperti bukit Karmel, rambut kepalamu merah lembayung; seorang raja tertawan dalam kepang-kepangnya.
  • 7:6 Betapa cantik, betapa jelita engkau, hai tercinta di antara segala yang disenangi.


Dalam agama kuno Kanaan, tempat-tempat yang tinggi seringkali dipandang sebagai tempat yang sakral dan gunung Karmel merupakan salah satunya. Thutmose II menyusun daftar tempat-tempat yang dianggap suci di wilayah Palestina dan gunung Karmel juga termuat dalam daftar tersebut. Para ilmuwan ahli Mesir, misalnya Maspero, meyakini bahwa gunung Karmel telah dianggap suci setidaknya semenjak abad ke-15 sebelum Masehi. Menurut Kitab Pertama Raja-Raja, di gunung tersebut ada altar persembahan kepada Yahweh, yang kemudian dihancurkan pada jaman Raja Ahab, dan dibangun kembali oleh Elia. Iamblichus mengkisahkan bahwa Pythagoras pernah mengunjungi gunung Karmel karena alasan kesakralannya. Iamblichus juga mengatakan bahwa gunung Karmel dipandang sebagai gunung yang tersakral. Selain itu Tachitus mengatakan bahwa di gunung Karmel ada sebuah oracle dimana Vespasian datang berkunjung untuk berkonsultasi. Tacitus menambahkan bahwa di sana ada sebuah altar tetapi tanpa patung dan tanpa tempat pemujaan di sekitarnya.

Penganut agama Yahudi, Kristen dan Islam mengkaitkan gunung Karmel dengan Elia. Dia diyakini pernah tinggal di salah satu gua yang ada di sana. Dalam Kitab Pertama Raja-Raja digambarkan Elia yang menantang 450 nabi-nabi Baal untuk bertanding mempersembahkan persembahan di altar di atas gunung Karmel untuk menentukan sesembahan siapa yang benar-benar mengatur Kerajaan Israel. Karena dalam kisah tersebut dituliskan bahwa jaman tersebut adalah jaman pemerintahan Ahab dan kaum Phoenicans sekutunya, maka para ahli Kitab Suci memperkirakan bahwa Baal yang dimaksudkan dalam kisah tersebut adalah Melqart.

Menurut kisah tersebut Elia menantang para nabi Baal untuk mempersembahkan kurban bakaran kepada dewanya. Para nabi Baal tersebut gagal. Sebaliknya, Elia menyiramkan air ke atas kurban persembahannya dan kemudian berdoa. Api menyambar dari langit dan membakar habis kurban bakaran tersebut. Segera sesudah itu awan berkumpul, langit menjadi gelap dan hujan turun dengan deras.

Pada tahun 1958, para ahli arkeologi menemukan sesuatu di atas gunung Karmel yang menyerupai sebuah altar. Mereka memperkirakan bahwa penemuan tersebut adalah altar Elia.

Ordo Karmel berdiri di gunung Karmel pada abad ke 12. Mereka adalah para peziarah atau mantan tentara perang salib. Kelompok ini segera menjadi besar dan berkembang di seluruh dunia. Mereka meyakini bahwa sekelompok pertapa Yahudi secara berkelanjutan telah tinggal dan hidup di gunung Karmel semenjak jaman Elia.

Ordo Karmel ini meyakini bahwa tempat di mana mereka mendirikan biaranya adalah lokasi di mana gua Elia berada. Lokasi ini berada di ketinggian 1.700 kaki di atas laut pada sisi ujung barat laut pegunungan tersebut, dan memang tempat itu merupakan tempat tertinggi di seluruh pegunungan tersebut.

Biara Karmel didirikan di sana segera setelah Ordo tersebut berdiri dan dipersembahkan kepada Maria, sebagai Bintang Samudera (dalam bahasa latin: Stella Maris). Ordo Karmel terpaksa meninggalkan wilayah tersebut karena serangan kaum Sarasin dan kemudian berkembang di berbagai tempat di dunia. Selama peperangan, bangunan biara ini sering berpindah-pindah tanganb, seringkali bangunan itu difungsikan sebagai masjid – di bawah pemerintahan Islam, lokasi tersebut dikenal sebagai El-Maharrakah, artinya tempat api, yang merujuk pada tantangan Elia kepada para nabi Baal. Pada tahun 1799 bangunan tersebut dijadikan sebuah rumah sakit oleh Napoleon, tetapi pada tahun 1821, sisa-sisa bangunan yang masih ada dihancurkan oleh penguasa Damascus. Hingga kini, reruntuhan tersebut masih ada.


(dari berbagai sumber)

REGULA KARMEL SANTO ALBERTUS

(1) ALBERTUS, yang dipanggil menjadi Patriark Gereja Yerusalem karena rahmat Allah, menyampaikan salam sejahtera dalam Tuhan dan berkat Roh Kudus kepada putera-putera terkasih dalam Kristus, B. dan para pertapa lainnya di bawah ketaatan kepadanya, yang tinggal dekat sumber di Gunung Karmel.

(2) Berulangkali dan dengan pelbagai cara para bapa suci menetapkan bagaimana setiap orang harus hidup taat kepada Yesus Kristus dan setia mengabdiNya dengan hati yang murni dan hati nurani yang baik, dalam status hidup apapun atau cara hidup religius apapun yang dipilihnya.

(3) Namun, karena kamu mohon kepada kami, agar kami memberikan kepadamu suatu pedoman hidup sesuai dengan cita-cita hidupmu yang harus kamu pegang teguh untuk selanjutnya, maka:

(4) Pertama-tama kami tetapkan, agar salah seorang dari antara kamu menjadi prior, yang dipilih untuk jabatan itu dengan persetujuan bersama semua saudara atau dengan persetujuan sebagian besar dan lebih bijak. Hendaknya setiap saudara lain menjanjikan ketaatan kepadanya dan berusaha menepati ketaatan yang dijanjikannya dengan perbuatan nyata bersama dengan kemurnian dan pelepasan hak milik.

(5) Selanjutnya kamu boleh bertempat tinggal di tempat-tempat yang sunyi atau di tempat manapun yang diberikan kepadamu, yang menurut pandangan prior dan para saudara dianggap cocok dan layak untuk menghayati hidup kebiaraanmu.

(6) Selain itu, masing-masing dari antara kamu hendaknya mempunyai bilik terpisah menurut keadaan tempat yang kamu rencanakan untuk didiami. Bilik-bilik itu ditentukan menurut ketetapan prior sendiri dan dengan persetujuan para saudara lain atau sebagian yang lebih bijak.

(7) Namun hendaknya kamu menyantap apa saja yang dihidangkan bagimu di ruang makan bersama, sambil mendengarkan suatu bacaan Kitab Suci, jika hal itu dapat dilakukan dengan mudah.

(8) Tidak seorangpun dari antara para saudara diperkenankan pindah dari tempat yang telah ditentukan baginya atau bertukar tempat dengan saudara lain tanpa seijin prior yang menjabat pada waktu itu.

(9) Bilik prior hendaknya berdekatan dengan pintu masuk tempat itu, agar ia lebih dahulu menemui orang-orang yang datang ke tempat itu; dan dengan demikian segala sesuatu yang perlu dikerjakan, dapat dilaksanakan menurut pertimbangan dan ketentuannya.

(10) Masing-masing hendaknya tinggal di biliknya atau di dekatnya, sambil merenungkan hukum Tuhan siang dan malam serta berjaga dalam doa, kecuali bila sibuk dengan pekerjaan lain yang wajar.

(11) Mereka yang tahu mendoakan ibadat harian bersama dengan para rohaniwan, hendaknya melaksanakannya menurut ketentuan para bapa suci dan kebiasaan Gereja yang telah disahkan. Mereka yang tidak tahu, hendaknya mendoakan “Bapa kami” dua puluh lima kali pada waktu ibadat malam, kecuali pada hari Minggu dan hari raya. Kami menetapkan bahwa pada ibadat malam hari-hari tersebut jumlah doa itu dilipatduakan, sehingga “Bapa kami” didoakan lima puluh kali. Pada ibadat pagi doa yang sama diucapkan tujuh kali. Demikian pula pada ibadat-ibadat lain doa yang sama diucapkan tujuh kali, kecuali pada ibadat sore hendaknya diucapkan lima belas kali.

(12) Tidak seorangpun dari antara para saudara boleh mengatakan sesuatu adalah miliknya, tetapi semuanya hendaknya menjadi milik bersama; dan apapun juga hendaknya dibagikan kepada tiap orang oleh prior - dalam artian oleh saudara yang ditunjuknya untuk tugas tersebut – dengan mengingat usia dan kebutuhan masing-masing.

(13) Sejauh memang dibutuhkan, kamu boleh mempunyai keledai atau bagal dan memelihara beberapa ternak maupun unggas.

(14) Suatu tempat ibadat hendaknya dibangun di tengah bilik-bilik, sejauh hal itu dapat dilakukan dengan mudah. Di situ setiap pagi kamu harus berkumpul untuk menghadiri perayaan Misa, apabila dengan mudah dapat dilaksanakan.

(15) Lagi pula pada hari Minggu atau pada hari lain bila perlu, hendaknya kamu membicarakan pemeliharaan tata-tertib dan kesejahteraan rohani. Pada kesempatan itu hendaknya juga diperbaiki dengan kasih sayang pelanggaran dan kesalahan para saudara, bila terdapat pada seseorang.

(16) Hendaknya kamu berpuasa setiap hari kecuali pada hari Minggu mulai dari pesta Pengangkatan Salib Suci sampai hari Kebangkitan Tuhan, kecuali bila penyakit atau kelemahan badan maupun alasan lain yang wajar menganjurkan untuk tidak berpuasa, sebab kebutuhan tidak mengenal hukum.

(17) Hendaknya kamu berpantang daging, kecuali bila harus dimakan karena penyakit atau kelemahan tubuh. Dan karena kamu dalam perjalanan seringkali harus mengemis, maka di luar rumah biaramu kamu boleh makan hidangan yang dimasak dengan daging, supaya kamu tidak menjadi beban bagi mereka yang menjamumu. Di laut pun kamu boleh makan daging.

(18) Namun, hidup manusia di dunia ini merupakan suatu pencobaan dan semua orang yang mau hidup beribadah di dalam Kristus menderita aniaya. Lagi pula musuhmu, si setan, berkeliling seperti singa yang mengaum-aum mencari orang yang dapat ditelannya. Maka, hendaklah kamu berusaha dengan seksama mengenakan perlengkapan senjata Allah, supaya kamu dapat bertahan melawan tipu muslihat musuh.

(19) Pinggangmu hendaknya berikatkan kemurnian, dadamu hendaknya dilindungi pikiran-pikiran suci, sebab tertulis: pikiran suci akan melindungi engkau. Pakailah baju zirah keadilan, supaya kamu mampu mengasihi Tuhan Allahmu dengan segenap hati dan dengan segenap jiwa serta dengan segenap kekuatanmu, dan mengasihi sesamamu seperti dirimu sendiri. Dalam segala keadaan peganglah perisai iman; dengan perisai itu kamu akan dapat memadamkan semua panah berapi si jahat: tanpa iman tak mungkin kamu menyenangkan hati Allah. Lagi pula, kenakanlah ketopong keselamatan, agar kamu mengharapkan keselamatan hanya dari Penyelamat yang akan membebaskan umatNya dari dosa mereka. Akhirnya, hendaknya pedang Roh, yaitu firman Allah, diam berlimpah-limpah dalam mulut dan hatimu, dan segala sesuatu yang harus kamu lakukan, lakukanlah itu dalam Sabda Tuhan.

(20) Kamu harus melakukan suatu pekerjaan, sehingga setan selalu mendapati kamu sibuk, jangan sampai ia dapat masuk ke dalam jiwamu karena kamu menganggur. Dalam hal ini kamu menerima pengajaran dan teladan rasul Paulus; melalui mulutnya Kristus berbicara. Ia diangkat dan ditentukan Allah menjadi pewarta serta guru para bangsa dalam hal iman dan kebenaran. Jika kamu mengikutinya, kamu tidak akan tersesat. Ia berkata: kami bekerja dan berjerih payah di antara kamu siang dan malam, supaya tidak menjadi beban bagi siapapun di antara kamu. Bukan karena kami tidak berhak untuk itu, melainkan karena kami mau memberikan teladan kepadamu untuk kamu ikuti. Sebab ketika kami berada di antara kamu, kami menyatakan hal ini kepada kamu: jika seorang tidak mau bekerja, janganlah ia makan. Sebab kami mendengar bahwa di antara kamu ada yang berlaku tidak tertib dan tidak bekerja. Orang-orang semacam itu kami peringatkan dan kami mohon dalam Tuhan Yesus Kristus, supaya bekerja dengan tenang dan dengan demikian makan rejekinya sendiri.Jalan ini suci dan baik: tempuhlah jalan itu.

(21) Rasul itu menganjurkan keheningan ketika ia menyuruh orang bekerja dengan tenang; demikian pula nabi memberi kesaksian: keheningan memupuk keadilan; dan lagi pula ia berkata: dalam ketenangan dan pengharapan terletaklah kekuatanmu. Oleh karena itu kami menetapkan supaya kamu memegang teguh keheningan sesudah ibadat malam sampai selesai ibadat pagi hari berikutnya. Meskipun pada waktu lain keheningan tidak perlu dijaga begitu ketat, namun hendaknya menjaga diri dari banyak bicara. Sebab tertulis - dan tidak kurang pengalaman mengajarkan - bahwa dalam banyak bicara pasti terdapat dosa; dan orang yang gegabah dalam percakapannya akan mengalami akibat buruknya. Demikian pula, orang yang banyak bicara merugikan jiwanya. Dan dalam Injil Tuhan bersabda: setiap kata sia-sia yang diucapkan seseorang harus dipertanggungjawabkan pada hari penghakiman. Maka, setiap orang harus mempertimbangkan perkataannya dan mengekang mulutnya, agar ia tidak tergelincir dan jatuh karena lidahnya sehingga tidak tertolong sampai binasa. Bersama dengan nabi ia harus menjaga jalannya agar tidak berdosa karena lidahnya; dan ia harus berusaha memelihara dengan seksama dan hati-hati keheningan yang memupuk keadilan.

(22) Dan engkau, saudara B. dan siapa pun yang akan diangkat menjadi prior sesudah engkau, hendaknya selalu mengingat dan mengamalkan apa yang disabdakan Tuhan dalam Injil: Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan barangsiapa ingin menjadi terkemuka di antara kamu hendaklah ia menjadi hambamu.

(23) Kamu juga, saudara-saudara lainnya, hormatilah priormu dengan rendah hati dengan lebih memikirkan Kristus yang mengangkatnya menjadi atasanmu daripada orang itu sendiri. Dia pun bersabda kepada para pemimpin Gereja: Barangsiapa mendengarkan kamu, ia mendengarkan Aku, dan barangsiapa menolak kamu, ia menolak Aku. Jangan sampai kamu dihakimi karena menghinanya, tetapi semoga kamu menerima ganjaran hidup kekal karena taat setia.

(24) Kami telah menulis ini kepada kamu dengan ringkas dan menetapkannya sebagai suatu pedoman hidup yang harus kamu hayati. Akan tetapi apabila seseorang berbuat lebih daripada ini, Tuhan sendiri akan memberikan ganjaran kepadanya pada waktu Ia datang kembali. Namun, hendaknya menggunakan penegasan sebagai penuntun kebajikan-kebajikan.

THE RULE OF SAINT ALBERT

[Chapter 1]
Albert, called by God's favour to be patriarch of the church of Jerusalem, bids health in the Lord and the blessing of the Holy Spirit to his beloved sons in Christ, B. and the other hermits under obedience to him, who live near the spring on Mount Carmel.
[Chapter 2]
Many and varied are the ways in which our saintly forefathers laid down how everyone, whatever his station or the kind of religious observance he has chosen, should live a life of alegiance to Jesus Christ -- how, pure in heart and stout in conscience, he must be unswerving in the service of his Master.
[Chapter 3]
It is to me, however, that you have come for a rule of life in keeping with your avowed purpose, a rule you may hold fast to henceforward; and therefore:
[Chapter 4]
The first thing I require is for you to have a prior, one of yourselves, who is to be chosen for the office by common consent, or that of the greater and maturer part of you; each of the others must promise him obedience -- of which, once promised, he must try to make his deeds the true reflection -- and also chastity and the renunciation of ownership.
[Chapter 5]
If the prior and brothers see fit, you may have foundations in solitary places, or where you are given a site that is suitable and convenient for the observance proper to your Order.
[Chapter 6]
ext, each one of you is to have a separate cell, situated as the lie of the land you propose to occupy may dictate, and allotted by disposition of the prior with the agreement of the other brothers, or the more mature among them.
[Chapter 7]
However, you are to eat whatever may have been given you in a common refectory, listening together meanwhile to a reading from Holy Scripture where that can be done without difficulty.
[Chapter 8]
None of the brothers is to occupy a cell other than that allotted to him or to exchange cells with another, without leave or whoever is prior at the time.
[Chapter 9]
The prior's cell should stand near the entrance to your property, so that he may be the first to meet those who approach, and whatever has to be done in consequence may all be carried out as he may decide and order.
[Chapter 10]
Each one of you is to stay in his own cell or nearby, pondering the Lord's law day and night and keeping watch at his prayers unless attending to some other duty.
[Chapter 11]
Those who know how to say the canonical hours with those in orders should do so, in the way those holy forefathers of ours laid down, and according to the Church's approved custom. Those who do not know the hours must say twenty-five Our Fathers for the night office, except on Sundays and solemnities when that number is to be doubled so that the Our Father is said fifty times; the same prayer must be said seven times in the morining in place of Lauds, and seven times too for each of the other hours, except for Vespers when it must be said fifteen times.
[Chapter 12]
None of the brothers must lay claim to anything as his own, but you are to possess everything in common; and each is to receive from the prior -- that is from the brother he appoints for the purpose -- whatever befits his age and needs.
[Chapter 13]
You may have as many asses and mules as you need, however, and may keep a certain amount of livestock or poultry.
[Chapter 14]
An oratory should be built as conveniently as possible among the cells, where, if it can be done without difficulty, you are to gather each morning to hear Mass.
[Chapter 15]
On Sundays too, or other days if necessary, you should discuss matters of discipline and your spiritual welfare; and on this occasion the indiscretions and failings of the brothers, if any be found at fault, should be lovingly corrected.
[Chapter 16]
You are to fast every day, except Sundays, from the feast of the Exaltation of the Holy Cross until Easter Day, unless bodily sickness or feebleness, or some other good reason, demand a dispensation from the fast; for necessity overrides every law.
[Chapter 17]
You are to abstain from meat, except as a remedy for sickness or feebleness. But as, when you are on a journey, you more often than not have to beg your way; outside your own houses you may eat foodstuffs that have been cooked with meat, so as to avoid giving trouble to your hosts. At sea, however, meat may be eaten.
[Chapter 18]
Since man's life on earth is a time of trial, and all who would live devotedly in Christ must undergo persecution, and the devil your foe is on the prowl like a roaring lion looking for prey to devour, you must use every care to clothe yourselves in God's armour so that you may be ready to withstand the enemy's ambush.
[Chapter 19]
Your loins are to be girt with chastity, your breast fortified by holy meditations, for, as Scripture has it, holy meditation will save you. Put on holiness as your breastplate, and it will enable you to love the Lord your God with all your heart and soul and strength, and your neighbour as yourself. Faith must be your shield on all occasions, and with it you will be able to quench all the flaming missiles of the wicked one: there can be no pleasing God without faith; [and the victory lies in this -- your faith]. On your head set the helmet of salvation, and so be sure of deliverance by our only Saviour, who sets his own free from their sins. The sword of the spirit, the word of God, must abound in your mouths and hearts. Let all you do have the Lord's word for accompaniment.
[Chapter 20]
You must give yourselves to work of some kind, so that the devil may always find you busy; no idleness on your part must give him a chance to pierce the defences of your souls. In this respect you have both the teaching and the example of Saint Paul the Apostle, into whose mouth Christ put his own words. God made him preacher and teacher of faith and truth to the nations: with him as your leader you cannot go astray. We lived among you, he said, labouring and wary, toiling night and day so as not to be a burden to any of you; not because we had no power to do otherwise but so as to give you, in your own selves, an example you might imitate. For the charge we gave you when we were with you was this: that woever is not willing to work should not be allowed to eat either. For we have heard that there are certain restless idlers among you. We charge people of this kind, and implore them in the name of our Lord Jesus Christ, that they earn their own bread by silent toil. This is the way of holiness and goodness: see that you follow it.
[Chapter 21]
The Apostle would have us keep silence, for in silence he tells us to work. As the Prophet also makes known to us: Silence is the way to foster holiness. Elsewhere he says: Your strength will lie in silence and hope. For this reason I lay down that you are to keep silence from after Compline until after Prime the next day. At other times, although you need not keep silence so strictly, be careful not to indulge in a great deal of talk, for, as Scripture has it -- and experience teaches us no less -- sin will not be wanting where there is much talk, and he wo is careless in speech will come to harm; and elsewhere: The use of many words brings harm to the speaker's soul. And our Lord says in the Gospel: Every rash word uttered will have to be accounted for on judgement day. Make a balance then, each of you, to weigh his words in; keep a tight rein on your mouths, lest you should stumble and fall in speech, and your fall be irreparable and prove mortal. Like the Prophet, watch your step lest your tongue give offence, and employ every care in keeping silent, which is the way to foster holiness.
[Chapter 22]
You, brother B., and whoever may succeed you as prior, must always keep in mind and put into practice what our Lord said in the Gospel: Whoever has a mind to become a leader among you must make himself servant to the rest, and whichever of you would be first must become your bondsman.
[Chapter 23]
You, other brothers too, hold your prior in humble reverence, your minds not on him but on Christ who has placed him over you, and who, to those who rule the Churches, addressed the words: Whoever pays you heed pays heed to me, and whoever treats you with dishonour dishonours me; if you remain so minded you will not be found guilty of contempt, but will merit life eternal as fit reward for your obedience.
[Chapter 24]
Here then are the few points I have written down to provide you with a standard of counduct to live up to; but our Lord, at his second coming will reward anyone who does more than he is obliged to do. See that the bounds of common sense are not exceeded, however, for common sense is the guide of the virtues.

WE ARE CARMELITES

We live our life of allegiance to Christ through a commitment to seek the face of the living God (the contemplative dimension of life), through fraternity, and through service (diakonia) in the midst of the people. (Cf. Constitution # 14)

Our vocation is to stand before God for everyone.

We believe that without LOVE, all works are nothing.

We believe that it is in Christ and in his Good News that everyone will find the full meaning og life, the liberation from all forms of slavery and the brotherhood and peace, which are the desire of our hearts.

As Carmelites we have received the unique gifts of our charism and spirituality from the Spirit. We have the duty to evangelise as Carmelites, by sharing these gifts of the Spirit with the whole Church and, indeed, the whole world.We do this by:

  • spreading our physical presence around the globe through our missionary endeavours;
  • fostering good vocations that will be enable us to grow and spread our charism and spirituality around the world;
  • giving witness to our charism and spirituality by our lives;
  • being prophets of justice and peace after the example of Elijah;
  • imitating Mary the evangeliser par excellence.
You can meet us all over the world:Antigua, Argentina, Australia, Austria, Bolivia, Brazil, Burkina Faso, Cameroon, Canada, Colombia, Cuba, Czech Rep. , Democratic Rep. of Congo, Dominican Rep. , Timor Leste, Ecuador, England, France, Germany, Grenada, Guyana, India, Indonesia, Ireland, Italy, Kenya, Malta, Mexico, Mozambique, Netherlands, New Caledonia, Peru, Philippines, Poland, Portugal, Puerto Rico, Rumania, Rwanda, Saint Lucia, Saint Vincent, Scotland, Spain, Tanzania, Trinidad and Tobago, Ukraine, United States, Venezuela, Vietnam, Wales, Wallis,Zimbabw, and Timor Leste.

Our Indonesian Province and our formation convents are located in Malang - Indonesia.


your little brother,
an unworthy carmelite,
fr. o. carm of indonesian province